Tag

, ,

Banyak orang pernah mendengar riwayat Buddha Gotama, tapi sayang biasanya kisah-kisah tersebut hanya sebatas Buddha Sejarah. Dalam artian ketokohan Buddha Gotama, yaitu sebagai seorang pangeran dari sebuah kerajaan bernama Kapilawastu, padahal seperti yang kita ketahui bersama dalam Buddha Dhamma diajarkan Purnabhava (Kelahiran Kembali) dan Kebodhisattaan sehingga dengan demikian riwayat Buddha Gotama sebagai seorang pangeran hanyalah secuil dari keseluruhan riwayat Buddha Gotama. Diharapkan dengan pemaparan saya ini para pembaca bisa lebih mengenal Buddha dan Dhamma.

Sebelum saya memulai memaparkan riwayat Buddha Gotama ini, perkenankan saya untuk memberikan pengertian-pengertian dari beberapa istilah yang nantinya akan dijumpai dalam tulisan ini.

Kata “Buddha —  artinya Yang Sadar — yang biasa diketahui oleh banyak orang sebenarnya ada 3 jenis, yaitu :

1. Samma Sambuddha/Samyak Sambuddha : Istilah ini diberikan kepada sesorang yang telah mencapai kebuddhaan dengan usahanya sendiri (tanpa bimbingan), mampu menerangkan Dhamma yang telah ditemukannya kepada orang lain sehingga yang dibimbing bisa mencapai tingkat kesucian. Samma Sambuddha tidak akan muncul dalam 2 zaman, yaitu zaman kemerosotan (umur manusia rata antara 14 – 80 tahun) dan zaman kemakmuran (umur manusia diatas 100.000 tahun).  Hal ini disebabkan pada masa 2 zaman ini manusia sulit untuk memahami 4 kesunyataan mulia. Dalam literatur dinyatakan bahwa dalam 1 zaman hanya akan ada 1 Samma Sambuddha. Kata “Sang Buddha” atau “Buddha” biasanya dimaksudkan untuk Samma Sambuddha.

2. Pacceka Buddha/Pratyeka Buddha : Istilah ini diberikan kepada sesorang yang telah mencapai kebuddhaan dengan usahanya sendiri (tanpa bimbingan) dan tidak menerangkan Dhamma. Pacceka Buddha biasa juga disebut Buddha Diam karena dia tidak mengajarkan Dhamma, hal ini disebabkan karena Pacceka Buddha biasanya muncul di 2 zaman yaitu zaman kemerosotan dan zaman kemakmuran, dimana pada zaman itu manusia sulit untuk memahami Dhamma, oleh sebab itu Pacceka Buddha hanya mengajarkan moralitas saja.

3. Savaka Buddha/Sravaka Buddha : Istilah ini diberikan kepada sesorang yang telah mencapai kebuddhaan dengan bimbingan seorang guru (Samma Sambuddha/Samyak Sambuddha) dan tidak mampu menerangkan Dhamma. Savaka Buddha hanya muncul sezaman dengan Samma Sambuddha dan atau sampai lenyapnya ajaran Samma Sambuddha. Walaupun semua jenis Buddha telah mencapai tingkat kesucian Arahat namun kata “Arahat” biasanya dimaksudkan untuk Savaka Buddha.

Perlu dicatat, yang dimaksud “tidak mampu menerangkan Dhamma.” adalah ketidakmampuan untuk menerangkan Dhamma oleh diri sendiri. Dengan demikian walaupun seorang Savaka Buddha bisa membimbing yang lain mencapai kebuddhaan tapi pengatahuan Dhamma-nya asalnya dari Samma Sambuddha.

Kata “Bodhisatta/Bodhisatva” — artinya Calon Buddha — merupakan suatu istilah untuk mereka-mereka yang berkeinginan untuk mencapai kebuddhaan. Namun secara khusus dimaksudkan bagi mereka yang bercita-cita untuk menjadi Samma Sambuddha. Bodhisatta itu sendiri ada 3 jenis :

1. Pannadika Bodhisatta : Calon Samma Sambuddha yang unggul dalam kebijaksanaan (Panna), menempuh minimal tambahan kehidupan sebanyak 4 Asankhyeyya kappa dan 100.000 kappa untuk menyempurnakan Parami-nya. Contohnya Buddha Gotama

2. Saddhadika Bodhisatta : Calon Samma Sambuddha yang unggul dalam keyakinan (Saddha), menempuh minimal tambahan kehidupan sebanyak 8 Asankhyeyya kappa dan 100.000 kappa untuk menyempurnakan Parami-nya.

3. Viriyadika Bodhisatta :  Calon Samma Sambuddha yang unggul dalam semangat (Viriya), menempuh minimal tambahan kehidupan sebanyak 16 Asankhyeyya kappa dan 100.000 kappa untuk menyempurnakan Parami-nya. Contohnya Bodhisatta Meitreya

Untuk menjadi seorang Samma Sambuddha seseorang diharuskan untuk menyempurnakan Parami-nya. Ada 6 Paramita yang harus disempurnakan, yaitu :

1. Dana Paramita : Kesempurnaan dalam dana (Memberi). Didalam banyak kehidupan Bodhisatva Gotama pernah memberikan seluruh hartanya, anak, istri, dan bahkan nyawanya sendiri demi satu/banyak makhluk (bisa Binatang/Hantu/Manusia/Dewa). Selain dana diatas ada juga Dhamma Dana, yaitu memberikan paham-paham/nasehat-nasehat kepada makhluk lain.

2. Sila Paramita : Kesempurnaan dalam Sila (Pengendalian Diri).

3. Ksanti Paramita : Kesempurnaan dalam Ksanti (Kesabaran). Pada satu masa kehidupan yang lampau, Bodhisatta Gotama terlahir sebagai seorang pertapa. Pada masa itu berkuasalah raja yang kejam yang tidak suka dengan orang-orang baik, raja ini pun memerintahkan untuk menangkap dan menghukum siapa pun orang yang dianggap baik dan akhirnya pertapa (Bodhisatta Gotama) tersebut pun juga ditangkap. Raja pun bertanya “Wahai pertapa apa yang kamu latih???” “Saya melatih kesabaran Yang Mulia” jawab pertapa. Mendengar demikian raja pun tidak senang dan memerintahkan untuk memotong 2 kuping dan hidungnya, kemudian raja bertanya lagi “Wahai pertapa apa yang kamu latih???” “Saya melatih kesabaran Yang Mulia” jawab pertapa. Mendengar demikian semakin marahlah sang raja dan memerintahkan untuk memotong ke 2 tangan dan ke 2 kakinya dan bertanya lagi “Wahai pertapa apa yang kamu latih???” “Saya melatih kesabaran Yang Mulia” jawab pertapa. Karena menyadari pertapa itu sebentar lagi mati raja pun meninggalkan tempat eksekusi tersebut. Sebelum mati pertapa itu berkata “Akhirnya aku berhasil melatih kesabaranku”.

4. Viriya Paramita : Kesempurnaan dalam Viriya (Semangat/Keuletan). Disini Bodhisatta Gotama berusaha untuk tetap melakukan kebajikan.

5. Dyana Paramita : Kesempurnaan dalam Dyana/Jhana (Ketenangan Bathin). Disini Bodhisatta Gotama berusaha melatih ketenangan batin, semacam mengendalikan mental dan lebih lanjut mengembangkan kekuatan mental.

6. Prajna Paramita : Kesempurnaan dalam Prajna (Kebijaksanan). Disini Bodhisatta Gotama mengembangkan kebijaksanaannya.

Dari 6 paramita ini ada 4 paramita tambahan yang merupakan bagian yang lebih spesifik dari 6 paramita tadi sehingga total 10 paramita

Kappa/Kalpa adalah satuan waktu yang digunakan oleh Buddha Gotama untuk menyatakan rentang waktu yang panjang. Adapun 1 Kappa/Kalpa sebagai berikut :

“Jika seandainya terdapat sebuah tempat penampungan yang tingginya satu yojana, panjang satu yojana, lebar satu yojana dan diisi dengan biji mustard (kira-kira sebesar biji lada) dimana 1 biji mewakili 100 tahun maka satu kappa lebih lama dari pada itu”

Yojana adalah jarak yang ditempuh dari kota Savatthi ke kota ….(lupa) kira-kira 7-14 mil.

Mengenai Jhana, Arahat, Nibbana, Abhinna, Asankhyeyya kappa bisa dicari ditempat lain (terlalu panjang nantinya :lol:)


Sekarang kita masuk kepada masalah utama yaitu : APA dan SIAPA BUDDHA?

Alkisah dimasa yang lampau sekali terlahirlah seorang pemuda bernama Sumedha. Dia adalah anak keturunan murni  kasta brahmana yang kaya raya. Setelah orang tuanya meninggal, dia pun merenung salah satunya adalah:

“Sungguh menyedihkan kelahiran sebagai makhluk hidup; Demikian pula kehancuran dari badan jasmani; Sungguh menyedihkan mati dalam tekanan kebodohan dan di bawah kekuasaan usia tua.”

“Karena harus mengalami kelahiran, usia tua, dan sakit, aku akan mencari Nibbana di mana usia tua, kematian, dan ketakutan padam.”

Setelah melakukan perenungan itu, Sumedha kemudian berpikir bahwa dengan memiliki banyak kekayaan ini, ayahnya, kakaknya dan para leluhurnya serta saudara-saudaranya selama tujuh generasi bahkan tidak mampu membawa hanya satu keping uang pun pada saat mereka meninggal dunia. Oleh karena itu Sumedha kemudia berpikir harus mencari cara membawa kekayaan itu. Akhirnya Sumedha memutuskan untuk mengamalkan seluruh hartanya kepada siapa saja yang mau. Dan dia sendiri pergi menjadi seorang pertapa. Setelah tujuh hari bertapa akhirnya ia mencapai 8 pencapaian (8 tingkat Jhana) dan 5 kekuatan batin (Abhinna).

Setelah mencapai tingkat Jhana tersebut, petapa Sumedha kemudian berdiam dalam Jhana dalam waktu yang cukup lama sehingga dia sendiri tidak mengetahui bahwa diluar sana telah muncul seorang Samma Sambuddha bernama Dipankara. Setelah berdiam cukup lama dalam Jhana, pertapa Sumedha kemudian meninggalkan pertapaannya dan ketika ia melakukan perjalanan melalui angkasa, dia melihat para penduduk disebuah kota berkumpul dan bergembira dalam pekerjaan memperbaiki dan menghias jalan. Merasa ingin tahu apa yang sedang terjadi di bawah, dia kemudian turun dan berdiri sementara orang-orang memerhatikannya.

Kemudian ia bertanya: “Kalian memperbaiki jalan dengan gembira dan bersemangat untuk siapakah kalian memperbaiki jalan?”

Penduduk menjawab:  “Yang Mulia Sumedha, telah muncul di dunia Buddha Dipankara yang tiada bandingnya yang telah menaklukkan lima kejahatan Màra, Ia adalah Raja terbesar di seluruh dunia kami memperbaiki jalan ini untuk-Nya.”

Berdiri di tempat ia turun, Sumedha yang merasakan kebahagiaan dan juga karena perasaan religius, merenungkan dalam-dalam:

“Aku akan menanam benih kebajikan yang baik di tanah yang subur yaitu Buddha Dipankara ini, untuk melakukan perbuatan baik, yang sulit dan sangat jarang dapat dilakukan, juga untuk menyaksikan saat-saat bahagia munculnya seorang Buddha. Saat-saat bahagia itu sekarang telah datang kepadaku. Aku tidak akan menyia-nyiakannya.”

Dengan pikiran seperti itu, ia bertanya kepada para penduduk: “O sahabat, jika engkau mempersiapkan jalan untuk kunjungan Buddha, bagilah sedikit jalan untukku. Aku juga ingin berpartisipasi dalam pekerjaan memperbaiki jalan ini.”

“Baiklah” jawab para penduduk, dan karena mereka percaya bahwa ia adalah seorang yang memiliki kesaktian tinggi, mereka menyisakan untuknya, satu ruas jalan yang panjang, becek dan sangat tidak rata yang sangat sulit diperbaiki. Sewaktu mereka menyerahkan pekerjaan itu kepadanya, mereka berkata, “Engkau boleh membuat hiasan, buatlah seindah mungkin.”

Kemudian Sumedha, dengan hati yang masih dipenuhi perasaan gembira karena merenungkan kemuliaan Buddha, memutuskan, “Aku dapat memperbaiki jalan ini dengan kekuatan batin yang kumiliki, sehingga jalan ini kelihatan indah. Tetapi jika aku melakukannya dengan cara itu, para penduduk tidak akan menghargai. Sekarang aku harus melakukan pekerjaan ini dengan kekuatan fisikku.” Setelah memutuskan demikian, ia mulai menimbun lubang dan becek dengan tanah yang diambil dari jauh.

Sebelum Sumedha menyelesaikan pekerjaannya, Buddha Dipankara tiba diiringi 400.000 Arahat. Melihat keagungan dari Buddha Dipankara, Sumedha pun berpikir “Hari ini, aku akan mengorbankan diriku untuk Buddha. Agar Ia tidak menginjak lumpur dan mengalami ketidak-nyamanan, biarlah Buddha beserta 400.000 Arahat menginjak punggungku dan seolah-olah berjalan di atas jembatan kayu berwarna batu delima. Dengan menggunakan tubuhku sebagai jembatan oleh Buddha dan para Arahat, aku pasti akan mendapat kesejahteraan dan kebahagiaan dalam jangka waktu yang lama.”

Setelah mengambil keputusan demikian, ia melepaskan sabuknya, menggelar matras kulit macan dan jubahnya di atas tanah becek kemudian berbaring tiarap di atasnya, bagaikan jembatan yang terbuat dari kayu berwarna batu delima.

Sumedha, yang sedang bertiarap, seketika muncul keinginan untuk menjadi Buddha, “Jika aku menghendaki, hari ini juga aku dapat menjadi Arahat yang mana asava (noda-noda) dipadamkan dan kotoran batin lenyap. Tapi, apa untungnya? Seorang manusia luar biasa sepertiku merealisasi buah Arahatta dan Nibbana sebagai murid yang tidak berguna dari Buddha Dipankara? Aku akan berusaha sekuat mungkin untuk mencapai Kebuddhaan.”

“Apa gunanya, secara egois keluar dari lingkaran kelahiran sendirian, padahal aku adalah seorang manusia luar biasa yang memiliki kebijaksanaan, keyakinan, dan usaha. Aku akan berusaha mencapai kebuddhaan dan membebaskan semua makhluk termasuk para dewa dari lingkaran kelahiran yang merupakan lautan penderitaan.”

“Setelah mencapai kebuddhaan sebagai hasil dari perbuatanku yang tiada bandingnya dengan bertiarap dan menjadi jembatan untuk Buddha Dipankara, aku akan menolong banyak makhluk keluar dari lingkaran kelahiran yang merupakan lautan penderitaan.”

“Setelah menyeberangi sungai samsara dan meninggalkan tiga alam kehidupan, aku akan menaiki rakit Dhamma Jalan Mulia Berfaktor Delapan dan pergi menyelamatkan semua makhluk termasuk dewa.” Demikianlah pikirannya bercita-cita untuk menjadi Buddha.”

Mengetahui cita-cita luhur tersebut Buddha Dipankara pun mendekati Sumedha, berdiri didekat kepalanya dan mengunakan Abhinna melihat ke masa depan setelah mengetahui bahwa Sumedha punya kemampuan untuk menjadi Buddha. Buddha Dipankara pun bersabda “Sumedhà akan menjadi Buddha, bernama Gotama, setelah 4 Asankhyeyya dan 100.000 kappa sejak saat ini”. Sejak menerima ramalan itu Bodhisatta Gotama mengembangkan parami-nya sampai akhirnya menjadi Buddha, Buddha Gotama.

Perlu dicatat, kelahiran cikal bakal Buddha Gotama sebagai pertapa Sumedha (baru disebut Bodhisatta setelah menerima ramalan) merupakan tekad pertama kali untuk menjadi Buddha. Walaupun dikehidupan sebelum menjadi Sumedha, dia sendiri sudah punya keinginan untuk menyelamatkan makhluk lain.