Banyak orang pernah mendengar riwayat Buddha Gotama, tapi sayang biasanya kisah-kisah tersebut hanya sebatas Buddha Sejarah. Dalam artian ketokohan Buddha Gotama, yaitu sebagai seorang pangeran dari sebuah kerajaan bernama Kapilawastu, padahal seperti yang kita ketahui bersama dalam Buddha Dhamma diajarkan Purnabhava (Kelahiran Kembali) dan Kebodhisattaan sehingga dengan demikian riwayat Buddha Gotama sebagai seorang pangeran hanyalah secuil dari keseluruhan riwayat Buddha Gotama. Diharapkan dengan pemaparan saya ini para pembaca bisa lebih mengenal Buddha dan Dhamma.
Sebelum saya memulai memaparkan riwayat Buddha Gotama ini, perkenankan saya untuk memberikan pengertian-pengertian dari beberapa istilah yang nantinya akan dijumpai dalam tulisan ini.
Kata “Buddha” — artinya Yang Sadar — yang biasa diketahui oleh banyak orang sebenarnya ada 3 jenis, yaitu :
1. Samma Sambuddha/Samyak Sambuddha : Istilah ini diberikan kepada sesorang yang telah mencapai kebuddhaan dengan usahanya sendiri (tanpa bimbingan), mampu menerangkan Dhamma yang telah ditemukannya kepada orang lain sehingga yang dibimbing bisa mencapai tingkat kesucian. Samma Sambuddha tidak akan muncul dalam 2 zaman, yaitu zaman kemerosotan (umur manusia rata antara 14 – 80 tahun) dan zaman kemakmuran (umur manusia diatas 100.000 tahun). Hal ini disebabkan pada masa 2 zaman ini manusia sulit untuk memahami 4 kesunyataan mulia. Dalam literatur dinyatakan bahwa dalam 1 zaman hanya akan ada 1 Samma Sambuddha. Kata “Sang Buddha” atau “Buddha” biasanya dimaksudkan untuk Samma Sambuddha.
2. Pacceka Buddha/Pratyeka Buddha : Istilah ini diberikan kepada sesorang yang telah mencapai kebuddhaan dengan usahanya sendiri (tanpa bimbingan) dan tidak mampu menerangkan Dhamma. Pacceka Buddha biasa juga disebut Buddha Diam karena dia tidak mengajarkan Dhamma. Oleh karena itu Pacceka Buddha biasanya muncul di 2 zaman yaitu zaman kemerosotan dan zaman kemakmuran dimana pada zaman itu Pacceka Buddha hanya mengajarkan moralitas saja.
3. Savaka Buddha/Sravaka Buddha : Istilah ini diberikan kepada sesorang yang telah mencapai kebuddhaan dengan bimbingan seorang guru (Samma Sambuddha/Savaka Buddha) dan tidak mampu menerangkan Dhamma. Savaka Buddha hanya muncul sezaman dengan Samma Sambuddha dan atau sampai lenyapnya ajaran Samma Sambuddha. Walaupun semua jenis Buddha telah mencapai tingkat kesucian Arahat namun kata “Arahat” biasanya dimaksudkan untuk Savaka Buddha.
Perlu dicatat, yang dimaksud “tidak mampu menerangkan Dhamma.” adalah ketidakmampuan untuk menerangkan Dhamma oleh diri sendiri. Dengan demikian walaupun seorang Savaka Buddha bisa membimbing yang lain mencapai kebuddhaan tapi pengatahuan Dhamma-nya asalnya dari Samma Sambuddha.
Kata “Bodhisatta/Bodhisatva” — artinya Calon Buddha — merupakan suatu istilah untuk mereka-mereka yang berkeinginan untuk mencapai kebuddhaan. Namun secara khusus dimaksudkan bagi mereka yang bercita-cita untuk menjadi Samma Sambuddha. Bodhisatta itu sendiri ada 3 jenis :
1. Pannadika Bodhisatta : Calon Samma Sambuddha yang unggul dalam kebijaksanaan (Panna), menempuh minimal tambahan kehidupan sebanyak 4 Asankhyeyya kappa dan 100.000 kappa untuk menyempurnakan Parami-nya. Contohnya Buddha Gotama
2. Saddhadika Bodhisatta : Calon Samma Sambuddha yang unggul dalam keyakinan (Saddha), menempuh minimal tambahan kehidupan sebanyak 8 Asankhyeyya kappa dan 100.000 kappa untuk menyempurnakan Parami-nya.
3. Viriyadika Bodhisatta : Calon Samma Sambuddha yang unggul dalam semangat (Viriya), menempuh minimal tambahan kehidupan sebanyak 16 Asankhyeyya kappa dan 100.000 kappa untuk menyempurnakan Parami-nya. Contohnya Bodhisatta Meitreya
Untuk menjadi seorang Samma Sambuddha seseorang diharuskan untuk menyempurnakan Parami-nya. Ada 6 Paramita yang harus disempurnakan, yaitu :
1. Dana Paramita : Kesempurnaan dalam dana (Memberi). Didalam banyak kehidupan Bodhisatva Gotama pernah memberikan seluruh hartanya, anak, istri, dan bahkan nyawanya sendiri demi satu/banyak makhluk (bisa Binatang/Hantu/Manusia/Dewa). Selain dana diatas ada juga Dhamma Dana, yaitu memberikan paham-paham/nasehat-nasehat kepada makhluk lain.
2. Sila Paramita : Kesempurnaan dalam Sila (Pengendalian Diri).
3. Ksanti Paramita : Kesempurnaan dalam Ksanti (Kesabaran). Pada satu masa kehidupan yang lampau, Bodhisatta Gotama terlahir sebagai seorang pertapa. Pada masa itu berkuasalah raja yang kejam yang tidak suka dengan orang-orang baik, raja ini pun memerintahkan untuk menangkap dan menghukum siapa pun orang yang dianggap baik dan akhirnya pertapa (Bodhisatta Gotama) tersebut pun juga ditangkap. Raja pun bertanya “Wahai pertapa apa yang kamu latih???” “Saya melatih kesabaran Yang Mulia” jawab pertapa. Mendengar demikian raja pun tidak senang dan memerintahkan untuk memotong 2 kuping dan hidungnya, kemudian raja bertanya lagi “Wahai pertapa apa yang kamu latih???” “Saya melatih kesabaran Yang Mulia” jawab pertapa. Mendengar demikian semakin marahlah sang raja dan memerintahkan untuk memotong ke 2 tangan dan ke 2 kakinya dan bertanya lagi “Wahai pertapa apa yang kamu latih???” “Saya melatih kesabaran Yang Mulia” jawab pertapa. Karena menyadari pertapa itu sebentar lagi mati raja pun meninggalkan tempat eksekusi tersebut. Sebelum mati pertapa itu berkata “Akhirnya aku berhasil melatih kesabaranku”.
4. Viriya Paramita : Kesempurnaan dalam Viriya (Semangat/Keuletan). Disini Bodhisatta Gotama berusaha untuk tetap melakukan kebajikan.
5. Dyana Paramita : Kesempurnaan dalam Dyana/Jhana (Ketenangan Bathin). Disini Bodhisatta Gotama berusaha melatih ketenangan batin, semacam mengendalikan mental dan lebih lanjut mengembangkan kekuatan mental.
6. Prajna Paramita : Kesempurnaan dalam Prajna (Kebijaksanan). Disini Bodhisatta Gotama mengembangkan kebijaksanaannya.
Dari 6 paramita ini ada 4 paramita tambahan yang merupakan bagian yang lebih spesifik dari 6 paramita tadi sehingga total 10 paramita
Kappa/Kalpa adalah satuan waktu yang digunakan oleh Buddha Gotama untuk menyatakan rentang waktu yang panjang. Adapun 1 Kappa/Kalpa sebagai berikut :
“Jika seandainya terdapat sebuah tempat penampungan yang tingginya satu yojana, panjang satu yojana, lebar satu yojana dan diisi dengan biji mustard (kira-kira sebesar biji lada) dimana 1 biji mewakili 100 tahun maka satu kappa lebih lama dari pada itu”
Yojana adalah jarak yang ditempuh dari kota Savatthi ke kota ….(lupa) kira-kira 7-14 mil.
Mengenai Jhana, Arahat, Nibbana, Abhinna, Asankhyeyya kappa bisa dicari ditempat lain (terlalu panjang nantinya
)
Sekarang kita masuk kepada masalah utama yaitu : APA dan SIAPA BUDDHA?
Alkisah dimasa yang lampau sekali terlahirlah seorang pemuda bernama Sumedha. Dia adalah anak keturunan murni kasta brahmana yang kaya raya. Setelah orang tuanya meninggal, dia pun merenung salah satunya adalah:
“Sungguh menyedihkan kelahiran sebagai makhluk hidup; Demikian pula kehancuran dari badan jasmani; Sungguh menyedihkan mati dalam tekanan kebodohan dan di bawah kekuasaan usia tua.”
“Karena harus mengalami kelahiran, usia tua, dan sakit, aku akan mencari Nibbana di mana usia tua, kematian, dan ketakutan padam.”
Setelah melakukan perenungan itu, Sumedha kemudian berpikir bahwa dengan memiliki banyak kekayaan ini, ayahknya, kakaknya dan para leluhurnya serta saudara-saudaranya selama tujuh generasi bahkan tidak mampu membawa hanya satu keping uang pun pada saat mereka meninggal dunia. Oleh karena itu Sumedha kemudia berpikir harus mencari cara membawa kekayaan itu. Akhirnya Sumedha memutuskan untuk mengamalkan seluruh hartanya kepada siapa saja yang mau. Dan dia sendiri pergi menjadi seorang pertapa. Setelah tujuh hari bertapa akhirnya ia mencapai 8 pencapaian (8 tingkat Jhana) dan 5 kekuatan batin (Abhinna).
Setelah mencapai tingkat Jhana tersebut, petapa Sumedha kemudian berdiam dalam Jhana dalam waktu yang cukup lama sehingga dia sendiri tidak mengetahui bahwa diluar sana telah muncul seorang Samma Sambuddha bernama Dipankara. Setelah berdiam cukup lama dalam Jhana, pertapa Sumedha kemudian meninggalkan pertapaannya dan ketika ia melakukan perjalanan melalui angkasa, dia melihat para penduduk disebuah kota berkumpul dan bergembira dalam pekerjaan memperbaiki dan menghias jalan. Merasa ingin tahu apa yang sedang terjadi di bawah, dia kemudian turun dan berdiri sementara orang-orang memerhatikannya.
Kemudian ia bertanya: “Kalian memperbaiki jalan dengan gembira dan bersemangat untuk siapakah kalian memperbaiki jalan?”
Penduduk menjawab: “Yang Mulia Sumedha, telah muncul di dunia Buddha Dipankara yang tiada bandingnya yang telah menaklukkan lima kejahatan Màra, Ia adalah Raja terbesar di seluruh dunia kami memperbaiki jalan ini untuk-Nya.”
Berdiri di tempat ia turun, Sumedha yang merasakan kebahagiaan dan juga karena perasaan religius, merenungkan dalam-dalam:
“Aku akan menanam benih kebajikan yang baik di tanah yang subur yaitu Buddha Dipankara ini, untuk melakukan perbuatan baik, yang sulit dan sangat jarang dapat dilakukan, juga untuk menyaksikan saat-saat bahagia munculnya seorang Buddha. Saat-saat bahagia itu sekarang telah datang kepadaku. Aku tidak akan menyia-nyiakannya.”
Dengan pikiran seperti itu, ia bertanya kepada para penduduk: “O sahabat, jika engkau mempersiapkan jalan untuk kunjungan Buddha, bagilah sedikit jalan untukku. Aku juga ingin berpartisipasi dalam pekerjaan memperbaiki jalan ini.”
“Baiklah” jawab para penduduk, dan karena mereka percaya bahwa ia adalah seorang yang memiliki kesaktian tinggi, mereka menyisakan untuknya, satu ruas jalan yang panjang, becek dan sangat tidak rata yang sangat sulit diperbaiki. Sewaktu mereka menyerahkan pekerjaan itu kepadanya, mereka berkata, “Engkau boleh membuat hiasan, buatlah seindah mungkin.”
Kemudian Sumedha, dengan hati yang masih dipenuhi perasaan gembira karena merenungkan kemuliaan Buddha, memutuskan, “Aku dapat memperbaiki jalan ini dengan kekuatan batin yang kumiliki, sehingga jalan ini kelihatan indah. Tetapi jika aku melakukannya dengan cara itu, para penduduk tidak akan menghargai. Sekarang aku harus melakukan pekerjaan ini dengan kekuatan fisikku.” Setelah memutuskan demikian, ia mulai menimbun lubang dan becek dengan tanah yang diambil dari jauh.
Sebelum Sumedha menyelesaikan pekerjaannya, Buddha Dipankara tiba diiringi 400.000 Arahat. Melihat keagungan dari Buddha Dipankara, Sumedha pun berpikir “Hari ini, aku akan mengorbankan diriku untuk Buddha. Agar Ia tidak menginjak lumpur dan mengalami ketidak-nyamanan, biarlah Buddha beserta 400.000 Arahat menginjak punggungku dan seolah-olah berjalan di atas jembatan kayu berwarna batu delima. Dengan menggunakan tubuhku sebagai jembatan oleh Buddha dan para Arahat, aku pasti akan mendapat kesejahteraan dan kebahagiaan dalam jangka waktu yang lama.”
Setelah mengambil keputusan demikian, ia melepaskan sabuknya, menggelar matras kulit macan dan jubahnya di atas tanah becek kemudian berbaring tiarap di atasnya, bagaikan jembatan yang terbuat dari kayu berwarna batu delima.
Sumedha, yang sedang bertiarap, seketika muncul keinginan untuk menjadi Buddha, “Jika aku menghendaki, hari ini juga aku dapat menjadi Arahat yang mana asava (noda-noda) dipadamkan dan kotoran batin lenyap. Tapi, apa untungnya? Seorang manusia luar biasa sepertiku merealisasi buah Arahatta dan Nibbana sebagai murid yang tidak berguna dari Buddha Dipankara? Aku akan berusaha sekuat mungkin untuk mencapai Kebuddhaan.”
“Apa gunanya, secara egois keluar dari lingkaran kelahiran sendirian, padahal aku adalah seorang manusia luar biasa yang memiliki kebijaksanaan, keyakinan, dan usaha. Aku akan berusaha mencapai kebuddhaan dan membebaskan semua makhluk termasuk para dewa dari lingkaran kelahiran yang merupakan lautan penderitaan.”
“Setelah mencapai kebuddhaan sebagai hasil dari perbuatanku yang tiada bandingnya dengan bertiarap dan menjadi jembatan untuk Buddha Dipankara, aku akan menolong banyak makhluk keluar dari lingkaran kelahiran yang merupakan lautan penderitaan.”
“Setelah menyeberangi sungai samsara dan meninggalkan tiga alam kehidupan, aku akan menaiki rakit Dhamma Jalan Mulia Berfaktor Delapan dan pergi menyelamatkan semua makhluk termasuk dewa.” Demikianlah pikirannya bercita-cita untuk menjadi Buddha.”
Mengetahui cita-cita luhur tersebut Buddha Dipankara pun mendekati Sumedha, berdiri didekat kepalanya dan mengunakan Abhinna melihat ke masa depan setelah mengetahui bahwa Sumedha punya kemampuan untuk menjadi Buddha. Buddha Dipankara pun bersabda “Sumedhà akan menjadi Buddha, bernama Gotama, setelah 4 Asankhyeyya dan 100.000 kappa sejak saat ini”. Sejak menerima ramalan itu Bodhisatta Gotama mengembangkan parami-nya sampai akhirnya menjadi Buddha, Buddha Gotama.
Perlu dicatat, kelahiran cikal bakal Buddha Gotama sebagai pertapa Sumedha (baru disebut Bodhisatta setelah menerima ramalan) merupakan tekad pertama kali untuk menjadi Buddha. Walaupun dikehidupan sebelum menjadi Sumedha, dia sendiri sudah punya keinginan untuk menyelamatkan makhluk lain.
Agustus 26, 2009 at 9:40 am
1.Kemerosotan 14-80 tahun, emang Budhha meninggal umur berapa?.
2.Kemakmuran umur manusia 100.000 tahun,..setelah itu apa?…mati ya?.
3.Dalam pacceka bisa jadi buddha kok gak bisa nerangin dhamma, belum lulus dong buddhanya..hehehe
4.Dalam sayaka Buddha dibimbing guru tapi kok gak bisa nerangin dhamma?. Belum lulus juga buddhanya ya?
5.Emang standarnya apa antara yang tanpa Guru dan dengan Guru untuk menjadi buddha?
6.To the Point aja (daripada banyak tanya), kalau semua udah dicapai lalu apa yang kita dapatkan baik didunia atau setelah mati????????????
Agustus 26, 2009 at 9:52 pm
1. Buddha Gotama parinibbana diusia 80 tahun. Pada masanya, umur rata2 100 tahun Sedangkan umur tertinggi yang bisa dicapai 200 tahun.
2. Yang saya maksud dengan Zaman kemakmuran itu adalah usia manusia yang rata2nya lebih dari 100.000 tahun. Ya mati gak ada bedanya dengan sekarang.
3. Seorang Pacceka Buddha walaupun bisa mencapai kebuddhaan seorang diri, tapi dia tidak bisa menjelaskan pencapaiannya itu kepada orang lain. Hal ini disebabkan karena dia tidak mampu mengunakan terminologi yang tepat untuk diterangkan kepada orang lain. Dimana disisi lain Pacceka Buddha biasanya muncul pada zaman kemerosotan yaitu dimana moral manusia menurun sehingga tidak bisa menembus/memahami Dhamma. Sedangkan pada zaman kemakmuran orang sulit untuk menerima Dhamma karena sudah hidup enak.
4. Kebuddhaan gak ada hubungannya dengan apakah anda mampu menerangkan Dhamma atau tidak karena kebuddhaan itu pencapaian rohani. Anda pernah mendengar istilah “ilmunya untuk dirinya sendiri”??? yaitu seseorang yang mengetahui sesuatu tapi gak punya keahlian untuk menerangkannya kepada orang lain. Ini lah yang dimaksud dengan “Tidak mampu menerangkan Dhamma”.
Jadi disini untuk Savaka Buddha, dia dikatakan “Tidak Mampu Menerangkan Dhamma” pengertiannya sama dengan Pacceka Buddha. Tetapi mengingat Savaka Buddha hidup sejaman dengan Samma Sambuddha makanya dia mendapatkan istilah2 yang tepat untuk menjelaskannya kepada orang lain beda dengan Pacceka Buddha yang tidak sezaman dengan Samma Sambuddha.
5. Standarnya? maksud anda kenapa ada yang bisa mencapi kebuddhaan tanpa guru dan lainnya musti ada guru? Jika demikian maka jawabannya adalah karena mereka kurang Parami-nya.
6. Apa yang didapatkan? Maksud anda semacam hadiah berupa kenikmatan inderia seperti surga? Tidak, seorang yang mencapai kebuddhaan tidak mendapatkan hal demikian. Seorang Buddha setelah parinibbana dia tidak dilahirkan, terbentuk atau menjelma lagi.
Agustus 28, 2009 at 10:27 am
aku nanggepin no 6 aja, daripada banyak tanya. Wah setelah jadi buddha berarti malah penurunan drajat ya, lha gak jadi apa-apa,….masih mending jadi kentut…hehehe, bisa bikin hidung bau.
Agustus 26, 2009 at 11:12 am
Penjelasanmu ini menarik Naga Tidur, tetapi kemungkinan besar bukannya tambah jelas, malah tambah pusing yang membaca
hi hi hi. Salam Naga Tidur
Agustus 26, 2009 at 9:09 pm
Kalo mau ngerti bacanya bagian cerita dulu baru masuk di istilah-istilahnya
Januari 24, 2010 at 5:33 pm
SALAM KENAL dan SALING MENGUNJUNGI serta SALING BERBAGI.WAH…WEB-NYA CUKUP INFORMATIF …OYA,BISA PASANG LINK/BANNER GA YAH…??? HTTP: / / DUTACIPTA.WORDPRESS.COM
Januari 15, 2011 at 5:28 pm
salam
anda=.Sekarang kita masuk kepada masalah utama yaitu : APA dan SIAPA BUDDHA?
Alkisah dimasa yang lampau sekali terlahirlah seorang pemuda bernama Sumedha.
saya=kok pakai “alkisah “?
sejauh yang saya baca tentang sejarah Gautama,sedikit atau bahkan tidak ada yang membahas tentang perbuatannya/tanggung jawabnya terhadap keluarga.Bisa kasih penjelasan mas?
Saya terkadang mengunjungi situs resmi walubi namun saya tidak menjumpai aturan mengenai ekonomi (seperti pandangan budhis tentang bunga bank),atau hukum bela negara atau hukum keluarga.Bisa bantu jelasin mas?
salam
Januari 17, 2011 at 6:34 pm
Setau sy alkisah itu berarti dikisahkan, jika pemahaman sy benar lalu apa yg aneh ya?
Tanggung Jawab apa ya yg anda maksud? Sebagai ayah, sebagai suami? Ketika masih sebagai Bodhisatta, Siddharta memang meninggalkan anak istrinya setelah melihat 4 peristiwa, pd saat itu Siddharta begitu syok krn baru kali itu melihat kematian, org sakit, dan org tua. Setelah Siddharta menyadari bahwa semua org yg Dia cintai akan mengalami hal demikian, maka Siddharta pun memutuskan untuk menjalani hidup sebagai seorang pertapa sambil mencari Obat agar terbebas dr hal-hal diatas. Dan setelah Dia mencapai Kebuddhaan kemudian Sang Buddha secara bertahap mengajarkan Dhamma, sehingga pada akhirnya semua keluarganya mencapai kesucian, baik kesucian tingkat Sotapanna maupun Arahat.
Sejauh yg sy tau Pandangan Sang Buddha tentang ekonomi tdk ada krn Sang Buddha bukan pedagang hehehe, kecuali mengenai pekerjaan apa yg sebaiknya dihindari dan bagaimana seseorang mengatur keuangannya.
Mengenai bela negara, sejauh yg sy tau Sang Buddha tdk pernah membenarkan perang dgn alasan apapun tp juga tdk melarang jika mau bela negara.
Mengenai hukum keluarga/sosial bisa ada liat di Sigalovada Sutta dan Manggala Sutta
Semoga jawaban sy bisa menjawab pertanyaan anda
Januari 19, 2011 at 6:34 pm
salam
1.”…Siddharta pun memutuskan untuk menjalani hidup sebagai seorang pertapa sambil mencari Obat agar terbebas dr hal-hal diatas.,,”
Pada saat menjadi pertapa = Sidharta telah menjadi ayah dan suami?Tanggung jawabnya pada keluarga saat menjadi pertapa dan mencari obat bagaimana?baik sebagai ayah maupun suami.
2.Semua pendiri agama (sementara kita istilahkan demikian) pasti mengajak kepada kebaikan dalam segala hal,termasuk pekerjaan yang dihindari.Maksud saya,apakah dalam budhis permasalahan ekonomi ada pembahasan sendiri?contoh bunga bank dilarang/tidak,atau sewa menyewa tanah atau alat modal dibahas?
3.Dilarang menjajah itu benar.”Tidak melarang” bela negara apa bisa diartikan berdiam diri untuk dijajah itu dibenarkan?
4.saya masih mempelajari saran anda.
salam
Januari 20, 2011 at 2:34 am
@Abu Hanan
1. Berdasarkan tradisi Theravada, Siddharta menikah di usia 19 tahun dan meninggalkan istana menjadi seorng pertapa diusia 29 tahun, dalam ms2 Usia 19 sampe 29 tahun gk ada cerita detail mengenai kehidupan Siddharta hanya dikisahkan setelah Siddharta menikah dibangun 3 istana Kecil untuk mereka berdua… Pada usia 29 anak Siddharta lahir, disaat yg bersamaan dia memutuskan untuk meninggalkan istana menjadi pertapa, pd malam harinya Siddharta hendak untuk melihat anaknya yg baru lahir tp karena anaknya didekap istrinya jadi dia tidak bisa melihat anaknya, dia pun berpikir jika dia menggeserkan badan istrinya kemungkinan istrinya terbangun, jd akhirnya Siddharta meninggalkan Istana tanpa pernah melihat anaknya yg baru lahir.
Mau bagaimana pun anda tidak bisa melangkah keatas dan kebawah diwaktu yg bersamaan. Sebelum Bodhisatta turun kedunia, tujuannya adalah menjadi Buddha agar bisa menunjukan pencerahan pada mereka yg mencarinya
, selain itu meninggalkan keluarga adlh pengorbanan yg harus dia lakukan krn misinya yg terbesar berseberangan dengan kehidupan duniawi
2. Sejauh yg sy tau mengenai ekonomi seperti yg anda tanyakan sy rasa tidak ada, tp Sang Buddha mengajarkan agar berdagang dengan jujur, dan dr kehidupan masa lampau Siddharta, secara tidak langsung juga mengajarkan bahwa seseorng berdagang selayakx menentukan harga yg layak. Secara mendetail seperti perbankan sy rasa tidak ada…. Zaman Sang Buddha sistem ekonominya tidak serumit itu
3. Anda harus mengerti dulu bagaimana karma bekerja baru anda paham. Dlm hukum karma setiap perbuatan UMUM nya menimbulkan akibat. Jika perbuatan itu dilakukan kepada sesama makhluk hidup maka UMUM nya menimbulkan ikatan. Sebagai contoh dikehidupan masa lampau Siddharta pernah menentang Devadatta karena berlaku tdk jujur, akhirnya selama banyak kehidupan, jika mereka lahir dilingkungan yg sama, mereka selalu bermusuhan dan permusuhan mereka baru berakhir ketika Siddharta menjadi Buddha dan Devadatta menyatakan berlindung kepada Buddha Dhamma dan Sangha sesaat sebelum dia jatuh ke neraka.
Disisi lain pertanyaan anda sendiri pernah sy dan @wedul bahas, dan dia sendiri kesulitan menjawabx. Sy bertanya kembali sm dia begini : “Semua org muslim percaya bahwa siapa pun org yg beriman dan taat kalo mati masuk surga, disatu sisi muslim juga percaya bahwa rintangan/peristiwa merupakan rencana Allah” jika demikian mengapa jika anda hendak dibunuh anda melawan? Padahal mati kan masuk surga
Januari 21, 2011 at 5:35 pm
trims atas jawaban anda.
mengenai pembunuhan yang anda maksud (dg wedul) demikian :
mempertahankan hidup (apalagi hendak dibunuh) adalah wajib.apabila mati terbunuh karena kebenaran memang = surga.namun pada saat mempertahankan hidup kemudian timbul niat untuk membunuh lawan (karena emosi) namun tetap saya yang terbunuh maka saya = neraka.
Jadi,perbuatan tergantung dari niat.Orang beriman tidaklah beriman jika dia mati saat minum arak/berzinah.Keadilan untuk ukuran demikian bukan wilayah manusia untuk menentukan vonis antara surga-neraka (tentu saja karena masih banyak yang harus diukur dari seluruh perbuatan semasa hidup).
Tanya lagi :
1.untuk mencapai sempurna,apakah harus menjadi pertapa?Jika demikian,maka kewajiban sosial mungkin akan terbengkalai.sebagai contoh adalah tindakan Sidharta meninggalkan keluarga.Dalam pemikiran saya,untuk mencapai sempurna tidak harus meninggalkan kewajiban.
2.Atas penjelasan anda,terima kasih karena membantu untuk mencapai satu kesimpulan.
salam
Januari 21, 2011 at 11:15 pm
1. Pernyataan anda kurang jelas mas, apakah yg dimaksud mempertahankan diri disini hanya menangkis pukulan dan tidak melancarkan pukulan?
Jika termasuk melancarkan pukulan, mungkinkah seseorg mengayungkan pedangx ke leher lawan tnp niat membunuh? Masalah disertai emosi atau tidak, itu kan masalah besar kecilnya dosa. Contohx sj seorg penjahat yg ingin mencuri dengan cepat, lalu tanpa babibubebo langsung menembakkan senjatax ke korban hingga akhirx tewas. Apakah menurut anda dosax hanya mencuri? Kan dia tembakx gak pake emosi….
Sang Buddha ketika msh hidup pernah beberapa kali hendak dibunuh, tp dia tidak pernah sekalipun berhenti melangkah, menghindar atau bersembunyi, menenteng pedang atau tongkat, meminta raja untuk menyediakan pengawal, bahkan sendirian menemui Angulimala yg merupakan pembunuh sadis karena secara membabi buta menghabisi penduduk desa padahal prajurit2 yg jumlahx ratusan2 saja pada gentar waktu mau menangkap Angulimala, tetapi walaupun demikian tdk ada yg berhasil membunuh Sang Buddha
Mengapa mempertahankan Hidup itu wajib? Dalam sekte Muhammadiyah dikatakan bahwa kalo sakit gk boleh ke dokter bukan kah itu sama artix tdk mempertahankan hidup?
2. Untuk pencerahan sebagai seorg murid (Arahat) memang tidak perlu menjadi pertapa, tp untuk mencapai pencerahan sebagai Samma Sambuddha itu harus, lebih tepatx GARISNYA demikian
Ketika untuk pertama kalix Siddharta melihat org sakit, org tua, org mati Dia begitu syok. Siddharta pun bertanya pada kusirnya Canna apakah Istri, ayahanda, Canna, para dayang, prajurit, dan rakyat yg Dia sayangi akan mengalami hal serupa. Canna pun menjawab bahwa semua akan mengalamix. Pada saat itu Siddharta berpikir jika setiap org akan mengalami sakit, tua dan mati maka semua yg Dia dptkan tidak ada artix karena pada akhirx akan berpisah dariNya, Jd dia memutuskan untuk meninggalkan Istana untuk menemukan obat dr itu semua (tdk lama kemudian ada kabar anakx lahir), jadi Siddharta melepas tanggung jawab kecil dan memikul tanggung jawab yg lebih besar dan lebih bermanfaat
tp anda boleh menyebutx tidak bertanggung jawab sebagai suami dan ayah jika anda mau hehehehe…
Yakinlah tdk semua org punya niat yg pasti untuk mencapai kebuddhaan… Jadi anda tidak perlu khawatir soal tanggung jawab sosial… Jika ada 1 Raja menyerahkan tahtax masih ada yg lain menggantikanx….. Masa anda ingin berkata “Hai Sudirman kalo km gk pergi berperang gak mungkin km meninggal lbh cepat, jika demikian km bisa berkumpul dengan keluarga km” hehehe
Maret 5, 2011 at 3:14 pm
Apakah dalam Budha ada hukum yang mengatur supaya orang tidak berbuat kejahatan seperti : mencuri, korupsi, zina, dll..
April 27, 2011 at 5:04 pm
Kalo hukum/aturan, hanya berlaku untuk Bhikkhu disebut Vinaya, sedangkan untuk umat biasa hanya anjuran yaitu berupa Pancasila dan nasihat2 lainnya yg terdapat dalam beberapa sutta…
Mei 28, 2011 at 5:51 am
Ajaran ini tidak mengenal hukum seperti Islam dan Hindu…Lebih banyak bernuansa moral/etika/budi pekerti dengan segala keruwetan yang sukar dinalar.
Mei 28, 2011 at 5:57 am
Beberapa keruwetan yang susah dinalar adalah ;
1.kita ambil contoh aja Bodhisatta itu sendiri ada 3 jenis :
Pannadika Bodhisatta : Calon Samma Sambuddha yang unggul dalam kebijaksanaan (Panna), menempuh minimal tambahan kehidupan sebanyak 4 Asankhyeyya kappa dan 100.000 kappa untuk menyempurnakan Parami-nya. Contohnya Buddha Gotama
2.Pada periode kapan zaman kemakmuran itu terjadi?Pake Masehi aja mas,maksud saya,
pernahkah hal tersebut terjadi?
Kapan?
Dimana?
salam