Banyak orang pernah mendengar riwayat Buddha Gotama, tapi sayang biasanya kisah-kisah tersebut hanya sebatas Buddha Sejarah. Dalam artian ketokohan Buddha Gotama, yaitu sebagai seorang pangeran dari sebuah kerajaan bernama Kapilawastu, padahal seperti yang kita ketahui bersama dalam Buddha Dhamma diajarkan Purnabhava (Kelahiran Kembali) dan Kebodhisattaan sehingga dengan demikian riwayat Buddha Gotama sebagai seorang pangeran hanyalah secuil dari keseluruhan riwayat Buddha Gotama. Diharapkan dengan pemaparan saya ini para pembaca bisa lebih mengenal Buddha dan Dhamma.
Sebelum saya memulai memaparkan riwayat Buddha Gotama ini, perkenankan saya untuk memberikan pengertian-pengertian dari beberapa istilah yang nantinya akan dijumpai dalam tulisan ini.
Kata “Buddha” — artinya Yang Sadar — yang biasa diketahui oleh banyak orang sebenarnya ada 3 jenis, yaitu :
1. Samma Sambuddha/Samyak Sambuddha : Istilah ini diberikan kepada sesorang yang telah mencapai kebuddhaan dengan usahanya sendiri (tanpa bimbingan), mampu menerangkan Dhamma yang telah ditemukannya kepada orang lain sehingga yang dibimbing bisa mencapai tingkat kesucian. Samma Sambuddha tidak akan muncul dalam 2 zaman, yaitu zaman kemerosotan (umur manusia rata antara 14 – 80 tahun) dan zaman kemakmuran (umur manusia diatas 100.000 tahun). Hal ini disebabkan pada masa 2 zaman ini manusia sulit untuk memahami 4 kesunyataan mulia. Dalam literatur dinyatakan bahwa dalam 1 zaman hanya akan ada 1 Samma Sambuddha. Kata “Sang Buddha” atau “Buddha” biasanya dimaksudkan untuk Samma Sambuddha.
2. Pacceka Buddha/Pratyeka Buddha : Istilah ini diberikan kepada sesorang yang telah mencapai kebuddhaan dengan usahanya sendiri (tanpa bimbingan) dan tidak mampu menerangkan Dhamma. Pacceka Buddha biasa juga disebut Buddha Diam karena dia tidak mengajarkan Dhamma. Oleh karena itu Pacceka Buddha biasanya muncul di 2 zaman yaitu zaman kemerosotan dan zaman kemakmuran dimana pada zaman itu Pacceka Buddha hanya mengajarkan moralitas saja.
3. Savaka Buddha/Sravaka Buddha : Istilah ini diberikan kepada sesorang yang telah mencapai kebuddhaan dengan bimbingan seorang guru (Samma Sambuddha/Savaka Buddha) dan tidak mampu menerangkan Dhamma. Savaka Buddha hanya muncul sezaman dengan Samma Sambuddha dan atau sampai lenyapnya ajaran Samma Sambuddha. Walaupun semua jenis Buddha telah mencapai tingkat kesucian Arahat namun kata “Arahat” biasanya dimaksudkan untuk Savaka Buddha.
Perlu dicatat, yang dimaksud “tidak mampu menerangkan Dhamma.” adalah ketidakmampuan untuk menerangkan Dhamma oleh diri sendiri. Dengan demikian walaupun seorang Savaka Buddha bisa membimbing yang lain mencapai kebuddhaan tapi pengatahuan Dhamma-nya asalnya dari Samma Sambuddha.
Kata “Bodhisatta/Bodhisatva” — artinya Calon Buddha — merupakan suatu istilah untuk mereka-mereka yang berkeinginan untuk mencapai kebuddhaan. Namun secara khusus dimaksudkan bagi mereka yang bercita-cita untuk menjadi Samma Sambuddha. Bodhisatta itu sendiri ada 3 jenis :
1. Pannadika Bodhisatta : Calon Samma Sambuddha yang unggul dalam kebijaksanaan (Panna), menempuh minimal tambahan kehidupan sebanyak 4 Asankhyeyya kappa dan 100.000 kappa untuk menyempurnakan Parami-nya. Contohnya Buddha Gotama
2. Saddhadika Bodhisatta : Calon Samma Sambuddha yang unggul dalam keyakinan (Saddha), menempuh minimal tambahan kehidupan sebanyak 8 Asankhyeyya kappa dan 100.000 kappa untuk menyempurnakan Parami-nya.
3. Viriyadika Bodhisatta : Calon Samma Sambuddha yang unggul dalam semangat (Viriya), menempuh minimal tambahan kehidupan sebanyak 16 Asankhyeyya kappa dan 100.000 kappa untuk menyempurnakan Parami-nya. Contohnya Bodhisatta Meitreya
Untuk menjadi seorang Samma Sambuddha seseorang diharuskan untuk menyempurnakan Parami-nya. Ada 6 Paramita yang harus disempurnakan, yaitu :
1. Dana Paramita : Kesempurnaan dalam dana (Memberi). Didalam banyak kehidupan Bodhisatva Gotama pernah memberikan seluruh hartanya, anak, istri, dan bahkan nyawanya sendiri demi satu/banyak makhluk (bisa Binatang/Hantu/Manusia/Dewa). Selain dana diatas ada juga Dhamma Dana, yaitu memberikan paham-paham/nasehat-nasehat kepada makhluk lain.
2. Sila Paramita : Kesempurnaan dalam Sila (Pengendalian Diri).
3. Ksanti Paramita : Kesempurnaan dalam Ksanti (Kesabaran). Pada satu masa kehidupan yang lampau, Bodhisatta Gotama terlahir sebagai seorang pertapa. Pada masa itu berkuasalah raja yang kejam yang tidak suka dengan orang-orang baik, raja ini pun memerintahkan untuk menangkap dan menghukum siapa pun orang yang dianggap baik dan akhirnya pertapa (Bodhisatta Gotama) tersebut pun juga ditangkap. Raja pun bertanya “Wahai pertapa apa yang kamu latih???” “Saya melatih kesabaran Yang Mulia” jawab pertapa. Mendengar demikian raja pun tidak senang dan memerintahkan untuk memotong 2 kuping dan hidungnya, kemudian raja bertanya lagi “Wahai pertapa apa yang kamu latih???” “Saya melatih kesabaran Yang Mulia” jawab pertapa. Mendengar demikian semakin marahlah sang raja dan memerintahkan untuk memotong ke 2 tangan dan ke 2 kakinya dan bertanya lagi “Wahai pertapa apa yang kamu latih???” “Saya melatih kesabaran Yang Mulia” jawab pertapa. Karena menyadari pertapa itu sebentar lagi mati raja pun meninggalkan tempat eksekusi tersebut. Sebelum mati pertapa itu berkata “Akhirnya aku berhasil melatih kesabaranku”.
4. Viriya Paramita : Kesempurnaan dalam Viriya (Semangat/Keuletan). Disini Bodhisatta Gotama berusaha untuk tetap melakukan kebajikan.
5. Dyana Paramita : Kesempurnaan dalam Dyana/Jhana (Ketenangan Bathin). Disini Bodhisatta Gotama berusaha melatih ketenangan batin, semacam mengendalikan mental dan lebih lanjut mengembangkan kekuatan mental.
6. Prajna Paramita : Kesempurnaan dalam Prajna (Kebijaksanan). Disini Bodhisatta Gotama mengembangkan kebijaksanaannya.
Dari 6 paramita ini ada 4 paramita tambahan yang merupakan bagian yang lebih spesifik dari 6 paramita tadi sehingga total 10 paramita
Kappa/Kalpa adalah satuan waktu yang digunakan oleh Buddha Gotama untuk menyatakan rentang waktu yang panjang. Adapun 1 Kappa/Kalpa sebagai berikut :
“Jika seandainya terdapat sebuah tempat penampungan yang tingginya satu yojana, panjang satu yojana, lebar satu yojana dan diisi dengan biji mustard (kira-kira sebesar biji lada) dimana 1 biji mewakili 100 tahun maka satu kappa lebih lama dari pada itu”
Yojana adalah jarak yang ditempuh dari kota Savatthi ke kota ….(lupa) kira-kira 7-14 mil.
Mengenai Jhana, Arahat, Nibbana, Abhinna, Asankhyeyya kappa bisa dicari ditempat lain (terlalu panjang nantinya
)
Sekarang kita masuk kepada masalah utama yaitu : APA dan SIAPA BUDDHA?
Alkisah dimasa yang lampau sekali terlahirlah seorang pemuda bernama Sumedha. Dia adalah anak keturunan murni kasta brahmana yang kaya raya. Setelah orang tuanya meninggal, dia pun merenung salah satunya adalah:
“Sungguh menyedihkan kelahiran sebagai makhluk hidup; Demikian pula kehancuran dari badan jasmani; Sungguh menyedihkan mati dalam tekanan kebodohan dan di bawah kekuasaan usia tua.”
“Karena harus mengalami kelahiran, usia tua, dan sakit, aku akan mencari Nibbana di mana usia tua, kematian, dan ketakutan padam.”
Setelah melakukan perenungan itu, Sumedha kemudian berpikir bahwa dengan memiliki banyak kekayaan ini, ayahknya, kakaknya dan para leluhurnya serta saudara-saudaranya selama tujuh generasi bahkan tidak mampu membawa hanya satu keping uang pun pada saat mereka meninggal dunia. Oleh karena itu Sumedha kemudia berpikir harus mencari cara membawa kekayaan itu. Akhirnya Sumedha memutuskan untuk mengamalkan seluruh hartanya kepada siapa saja yang mau. Dan dia sendiri pergi menjadi seorang pertapa. Setelah tujuh hari bertapa akhirnya ia mencapai 8 pencapaian (8 tingkat Jhana) dan 5 kekuatan batin (Abhinna).
Setelah mencapai tingkat Jhana tersebut, petapa Sumedha kemudian berdiam dalam Jhana dalam waktu yang cukup lama sehingga dia sendiri tidak mengetahui bahwa diluar sana telah muncul seorang Samma Sambuddha bernama Dipankara. Setelah berdiam cukup lama dalam Jhana, pertapa Sumedha kemudian meninggalkan pertapaannya dan ketika ia melakukan perjalanan melalui angkasa, dia melihat para penduduk disebuah kota berkumpul dan bergembira dalam pekerjaan memperbaiki dan menghias jalan. Merasa ingin tahu apa yang sedang terjadi di bawah, dia kemudian turun dan berdiri sementara orang-orang memerhatikannya.
Kemudian ia bertanya: “Kalian memperbaiki jalan dengan gembira dan bersemangat untuk siapakah kalian memperbaiki jalan?”
Penduduk menjawab: “Yang Mulia Sumedha, telah muncul di dunia Buddha Dipankara yang tiada bandingnya yang telah menaklukkan lima kejahatan Màra, Ia adalah Raja terbesar di seluruh dunia kami memperbaiki jalan ini untuk-Nya.”
Berdiri di tempat ia turun, Sumedha yang merasakan kebahagiaan dan juga karena perasaan religius, merenungkan dalam-dalam:
“Aku akan menanam benih kebajikan yang baik di tanah yang subur yaitu Buddha Dipankara ini, untuk melakukan perbuatan baik, yang sulit dan sangat jarang dapat dilakukan, juga untuk menyaksikan saat-saat bahagia munculnya seorang Buddha. Saat-saat bahagia itu sekarang telah datang kepadaku. Aku tidak akan menyia-nyiakannya.”
Dengan pikiran seperti itu, ia bertanya kepada para penduduk: “O sahabat, jika engkau mempersiapkan jalan untuk kunjungan Buddha, bagilah sedikit jalan untukku. Aku juga ingin berpartisipasi dalam pekerjaan memperbaiki jalan ini.”
“Baiklah” jawab para penduduk, dan karena mereka percaya bahwa ia adalah seorang yang memiliki kesaktian tinggi, mereka menyisakan untuknya, satu ruas jalan yang panjang, becek dan sangat tidak rata yang sangat sulit diperbaiki. Sewaktu mereka menyerahkan pekerjaan itu kepadanya, mereka berkata, “Engkau boleh membuat hiasan, buatlah seindah mungkin.”
Kemudian Sumedha, dengan hati yang masih dipenuhi perasaan gembira karena merenungkan kemuliaan Buddha, memutuskan, “Aku dapat memperbaiki jalan ini dengan kekuatan batin yang kumiliki, sehingga jalan ini kelihatan indah. Tetapi jika aku melakukannya dengan cara itu, para penduduk tidak akan menghargai. Sekarang aku harus melakukan pekerjaan ini dengan kekuatan fisikku.” Setelah memutuskan demikian, ia mulai menimbun lubang dan becek dengan tanah yang diambil dari jauh.
Sebelum Sumedha menyelesaikan pekerjaannya, Buddha Dipankara tiba diiringi 400.000 Arahat. Melihat keagungan dari Buddha Dipankara, Sumedha pun berpikir “Hari ini, aku akan mengorbankan diriku untuk Buddha. Agar Ia tidak menginjak lumpur dan mengalami ketidak-nyamanan, biarlah Buddha beserta 400.000 Arahat menginjak punggungku dan seolah-olah berjalan di atas jembatan kayu berwarna batu delima. Dengan menggunakan tubuhku sebagai jembatan oleh Buddha dan para Arahat, aku pasti akan mendapat kesejahteraan dan kebahagiaan dalam jangka waktu yang lama.”
Setelah mengambil keputusan demikian, ia melepaskan sabuknya, menggelar matras kulit macan dan jubahnya di atas tanah becek kemudian berbaring tiarap di atasnya, bagaikan jembatan yang terbuat dari kayu berwarna batu delima.
Sumedha, yang sedang bertiarap, seketika muncul keinginan untuk menjadi Buddha, “Jika aku menghendaki, hari ini juga aku dapat menjadi Arahat yang mana asava (noda-noda) dipadamkan dan kotoran batin lenyap. Tapi, apa untungnya? Seorang manusia luar biasa sepertiku merealisasi buah Arahatta dan Nibbana sebagai murid yang tidak berguna dari Buddha Dipankara? Aku akan berusaha sekuat mungkin untuk mencapai Kebuddhaan.”
“Apa gunanya, secara egois keluar dari lingkaran kelahiran sendirian, padahal aku adalah seorang manusia luar biasa yang memiliki kebijaksanaan, keyakinan, dan usaha. Aku akan berusaha mencapai kebuddhaan dan membebaskan semua makhluk termasuk para dewa dari lingkaran kelahiran yang merupakan lautan penderitaan.”
“Setelah mencapai kebuddhaan sebagai hasil dari perbuatanku yang tiada bandingnya dengan bertiarap dan menjadi jembatan untuk Buddha Dipankara, aku akan menolong banyak makhluk keluar dari lingkaran kelahiran yang merupakan lautan penderitaan.”
“Setelah menyeberangi sungai samsara dan meninggalkan tiga alam kehidupan, aku akan menaiki rakit Dhamma Jalan Mulia Berfaktor Delapan dan pergi menyelamatkan semua makhluk termasuk dewa.” Demikianlah pikirannya bercita-cita untuk menjadi Buddha.”
Mengetahui cita-cita luhur tersebut Buddha Dipankara pun mendekati Sumedha, berdiri didekat kepalanya dan mengunakan Abhinna melihat ke masa depan setelah mengetahui bahwa Sumedha punya kemampuan untuk menjadi Buddha. Buddha Dipankara pun bersabda “Sumedhà akan menjadi Buddha, bernama Gotama, setelah 4 Asankhyeyya dan 100.000 kappa sejak saat ini”. Sejak menerima ramalan itu Bodhisatta Gotama mengembangkan parami-nya sampai akhirnya menjadi Buddha, Buddha Gotama.
Perlu dicatat, kelahiran cikal bakal Buddha Gotama sebagai pertapa Sumedha (baru disebut Bodhisatta setelah menerima ramalan) merupakan tekad pertama kali untuk menjadi Buddha. Walaupun dikehidupan sebelum menjadi Sumedha, dia sendiri sudah punya keinginan untuk menyelamatkan makhluk lain.
Juni 1, 2011 at 5:27 pm
@Abu Hanan
1. Gak perlu jauh2 mas, tanyakan diri anda sj bagaimana caranya anda mengetahui masa kecil anda, dan darimana anda tau bahwa bayangan yg anda liat adalah benar atau ilusi pikiran anda
2. Masih sangat lama mas yg pastinya
, berdasarkan literatur sih sdh sering
, Waktu zamannya Buddha Dipankara itu zamannya Kemakmuran, pada masa itu umur rata2 manusia 80rb tahun lebih, pada masa itulah Pertapa Sumedha dinyatakan/diramalkan sebagai (Bodhisatta) Calon Buddha Gotama, oleh Buddha Dipankara. Buddha Dipankara bukan dari bumi yg skrg.
Salam
Juni 5, 2011 at 5:51 pm
1.mudah.
saya masih ingat 60% periatiwa yang saya alami dari usia 3tahun-sekarang.
tapi apakah anda ingat tentang kehidupan anda sebelum kehidupan yang sekarang?
Darimana saya tahu?
saya bisa buktikan itu dari beberapa foto,kisah orang tua saya dan ingatan saya sendiri.Diuji dan dibandingkan.Semua terjadi dalam satu masa kehidupan sekarang.
Saya cuma meminta anda membuktikan bahwa anda pernah hidup sebelum kehidupan yang sekarang?Dengan cara apa membuktikannya?
2.Literatur?Apakah disertai bukti ilmiah?
Sedangkan anda sendiri tidak mengetahui tulisan yang menjadi kitab suci anda.Literatur terjemahan mas?
Juni 21, 2011 at 11:17 am
Kenapa anda hanya bisa ingat 60% saja dari umur 3 tahun-sekarang? kenapa anda gak bisa ingat waktu usia dibawah 3 tahun? belum hidupkah dirimu???
Duh mas kalo dibuktikan secara ilmiah itu hampir tidak mungkin mas, maaf mengecewakan anda hehehehe…. kenapa? sekurang2nya ada 3 hal:
1. Yang namanya kehidupan sebelumnya tentu saja sudah beda keluarga dan kemungkinan keluarga yang mengetahui orang tersebut juga sudah meninggal.
2. Ingatan adalah sesuatu yang anda ingat sendiri bukan org lain, jadi yang tahu benar/tidaknya bayangan yang muncul apakah ingatan ato ilusi ya anda sendiri. Anda pernah mengalami De Javu?
3. Kelahiran seseorang dialam tertentu turut mempengaruhi ingatan, misalnya anda sekarang meninggal, lalu lahir sebagai manusia lagi, seperti yang kita ketahui ada waktu 9 bulan dimana makhluk hidup itu diam tak beraktifitas, dan 0-3 tahun menunggu otak berkembang. Pada saat itu banyak memory yang hilang. Itu pun kalo anda mati langsung lahir jadi manusia, kalo jadi hewan dulu yah lebih banyak lagi memory yang terlupakan
. Tapi kalo anda lahir jadi makhluk halus/arwah gentayangan anda pasti bisa ingat masa lalu anda, kenapa? karena hantu lahir secara spontan. Jadi kesimpulannya adalah makhluk hidup yang terlahir dan melalui tahap perkembangan/pertumbuhan, secara umum akan mengalami kehilangan memory
.
Walaupun demikian, bukan berarti gak ada orang yang bisa mengingat kehidupan masa lalu, di India ada seorang anak kecil yang bisa mengingat kehidupan sebelumnya, sejak kecil dia selalu berkata bahwa ibu yang melahirkannya bukan ibunya. Kejadian ini kemudian diteliti oleh Dr. Ian Stevenson, dan anak itu menjadi orang pertama yang bisa dengan baik mengingat masa lalunya, dibandingkan beberapa ratus orang yang pernah dia teliti.
Jika anda bertanya caranya ya tentu saja dengan Samadhi, dengan objek cahaya, itu yang saya tahu. Tetapi saya tidak pernah berusaha untuk menguasai teknik tersebut, karena bagi saya gak penting2 amet
Iya Literatur, dari Sutta.
Astaga penting ya, saya mengetahui aksara apa tulisan tersebut? anda mau mencoba meneliti bumi masa lalu? sangat berminat? silahkan saja
Juni 21, 2011 at 12:47 pm
tetap sulit untuk dibuktikan dari sisi ilmiah.hal semacam ini sangat erat terkait dengan keyakinan.cuma saya pikir keadaan tersebut semestinya imbang.seperti penciptaan alam yang dari tiada menjadi ada,sebaliknya pihak anda yakin bahwa alam dari dulu ada tanpa diawali dan tak bisa pula diakhiri.
de javu?gambar kenyataan ttg masa depan?saya pikir semua orang mengalami satu-dua kali dalam hidupnya.
Dan itu tidak terkait dengan ingatan di masa lalu.
tidak beraktifitas bagaimana?
Penciptaan (4) ttg Manusia
saya gak paham maksud anda karena putri saya (usia 23 bulan telah mampu menghafal beberapa doa dan ayat AQ serta bercerita tentang peristiwa yang telah dia lewati meski tidak dengan sempurna).
bukan kehilangan memori tetapi memori belum banyak terpasang.anda akan dapati bahwa calon bayi yang berusia 6-7 bulan akan mampu mengenali suara2 dari luar (maksudnya di luar tubuh ibunya) dan penggunaan indra/alat perasa-peraba.
Juni 21, 2011 at 2:24 pm
Bukankah sy sudah menyatakannya bahwa jika anda ingin membuktikannya secara ilmiah itu sulit
. Oleh sebab itu mengenai Punarbhava kami sendiri tidak pernah ngotot agar org percaya kan, bahkan untuk sesama Buddhist sendiri
. Oh itu beda om hehehe… Begini, menurut anda mana yg lebih dulu ruang ato pencipta? Lagi pula kami tidak pernah mengatakan bahwa alam semesta sdah ada seperti skrg dari dulu, yg ada adalah ada tanpa pencipta, jadi sederhananya gini, debu2 jadi planet, trus hancur lagi jadi debu, trus berevolusi lagi jadi planet begitu seterusnya, jadi gak ada masa dimana debu itu dulu gak ada
.
De Javu bukan gambar tentang masa depan om hahaha… De Javu itu perasaan tidak asing ketika kita berada disuatu tempat yg belum pernah kita pergi sebelumnya, De Javu itu bahasa perancis yg artinya berulang.
Tidak beraktifitas itu maksudnya tdk berpikir, tidak mengingat, tdk ada aktifitas pikiran, kitakan lagi ngomongin ingatan masa lalu anda lupa?
Bukankah anda tidak bisa mengingat usia dibawah 3 thn, tapi bisa mengingat beberapa hal di usia diatas 3 thn?? Itu karena otak anda lagi berkembang pada masa itu sehingga anda tak mengingat. Anak anda bisa ingat beberapa peristiwa karena yg terjadi rentang waktunya tidak jauh. Coba anda tanya mengenai suster di RS yg merawat dia, apa dia bisa menjelaskannya? Bisa diingat karena dilatih secara rutin kan? Dan pada beberapa kasus memang ada anak yg mudah untuk menghafal
Ketika suatu makhluk hidup lahir sebagai manusia, pada saat itu ada masa dimana terjadi proses pembentukan jasmani, dan tentu sj aktifitas pikiran tak bergerak pada masa itu sampai mulai sempurna. Dengan kata lain memory masa lalu terlupakan. Jika memang benar kata anda bahwa memory belum terpasang, bukan karena memory lost, maka pertanyaan sy, mengapa anda hanya bisa mengingat 60% sj dari umur 3th-skrg, bukankah memory anda sudah terpasang? Apakah anda ingat makanan apa yg anda makan pada saat makan malam pada tanggal 24 Febuari 2011?
Juni 22, 2011 at 3:47 am
perbedaan besar diantara kita adalah saya melihat ada masa di saat semuanya belum ada.
kan berarti masa yang belum terjadi?dan saya artikan itu adalah gambar di masa depan.
lha yang mulai bilang tidak beraktifitas siapa?maka dari itu saya sampaikan bahwa manusia telah beraktifitas saat menjadi sel tunggal.Sedangkan ingatan masa lalu bagi saya adalah ingatan pada kehidupan saat mulai menjadi sel tunggal bukan kehidupan sebelumnya..entah itu menjadi batu,hewan ato manusia lain….(siapa tau saya adalah orang pertama yang berguru pada Sidharta )
Jika mengacu pada Bgahwad Srimartam (mungkin ejaan salah),ya sudahlah karena hal tersebut sangat dogmatis dan susah didiskusikan dalam kerangka ilmiah.
Juni 22, 2011 at 4:30 am
Duh si om sepertinya anda tidak mengerti maksud sy hehehe…. ketika sy kasih contoh debu, sesungguhnya sy hanya menyederhanakan sj. Dalam artian begini, ribuan tahun yang lalu org hanya mengatakan bahwa materi terkecil adalah debu, beberapa tahun kemudian molekul dan di waktu yang akan dtg lain lagi, jadi intinya sy tidak peduli unsur terkecil yang menjadi penyusun itu apa namanya, hasil dari kombinasi apa, tp yang pasti unsur dasar itu sebelumnya tidak pernah tidak ada…… Makanya saya kasih pertanyaan ke anda, mana lebih dulu Ruang atau Pencipta jika anda mengatakan bahwa segala sesuatu dari Pencipta dulu. Tapi anda tidak menjawab
Duh, anda salah mengerti om, anda kan sudah ada ditempat itu sekarang, dan kemudian merasa bahwa tempat ini tidak asing buat anda, sepertinya anda kenal padahal belum pernah datang. Bagaimana bisa dikatakan belum terjadi/gambaran masa depan?? kemungkinannya ya karena anda pernah pergi kesana sebelumnya dikehidupan dahulu, sehingga anda merasa kenal.
Begini om, Sang Buddha menjelaskan bahwa secara umum ketika manusia mati, dia tidak sadar kalo dia sudah pindah alam/jasad. Begitu juga ketika dalam kandungan bahkan keluar dari rahim. tapi dalam beberapa kasus ada yang tahu. Contohnya Siddharta, Ketika Dia meninggal dari Alam Surga sebagai Dewa, dia menyadarinya, ketika masuk ke rahim Dia menyadarinya dan berada didalam rahim juga menyadarinya, dan ketika keluar dari rahim juga menyadarinya, maka dari itu ketika baru keluar dari rahim Siddharta bisa bicara, tapi seperti yang saya katakan jasmani turut mempengaruhi suatu makhluk.
September 23, 2011 at 3:59 pm
sudah…1 = 1 , 2 = 2 …live on your on way…jangan permasalahkan yang ndak penting…cuma berdua ngobrol tapi kok hoboh amet .agama bukan untuk di perdebatkan.
Oktober 12, 2011 at 5:21 pm
Bacala Al-Quran.. anda akan dapat mengathui penciptaan manusia.. penciptaan alam, dunia,kenapa manusia dijadikan dengan bermacam bangsa dan bahasa serta tulisan, adab, penciptaan matahari dan segala pelenet… kejadian hujan, air yang bermacam-macam rasa, haiwan ternakan, ikan, dan segala-galanya terjawab dalam Al-Quran…. Dari pencari Kebenaran…
Oktober 16, 2011 at 3:53 pm
Beda antara penciptaan yang ditulis dalam Alquran sama buku sains, cerita novel, kitab agama lain apa mas? bisa kah anda menunjukan perbedaan nya secara nyata?