Suatu ketika seorang dari Eropa datang ke negeri Thailand, dia pergi ke hutan untuk berjumpa dengan seorang Bhikkhu hutan, sesampainya disana, diapun bertanya sebagai berikut:
Orang Barat: Oh Bhante mengapa para Bhikkhu seperti anda tinggal di hutan, dan sebagian lainnya di Vihara? Mengapa kalian tidak datang ke setiap pintu dan menerangkan Dhamma? Bukankah kalian menyatakan Dhamma adalah Cahaya Kehidupan? Sang Jalan bagi kebahagiaan?
Bhikkhu: Oh pendatang yang baik, memang benar bahwa Dhamma dinyatakan sebagai Cahaya Kehidupan, Sang Jalan bagi kebahagiaan, tetapi nilai dari Dhamma bagaikan Permata, anda hanya bisa menemukannya di 2 tempat, yaitu di Gunung, dan di Toko Permata. Gunung adalah tempat asal Permata itu, sedangkan Toko Permata adalah tempat dimana Permata itu diperlihatkan/ditawar ke orang-orang, demikian juga dengan Bhikkhu, Tempat Sunyi, seperti hutan dan pegunungan adalah kediamannya, dan Vihara adalah tempat dimana orang-orang bisa dengan mudah mengenal Dhamma. Apakah ada orang yang menjual permata datang ke setiap rumah untuk menawarkannya kepada setiap orang ataupun anda?
Orang Barat: Tidak Bhante.
Bhikkhu: Tetapi mengapa tidak ada orang yang datang ke setiap pintu? Mengapa seseorang harus datang ke Toko Permata jika ingin memiliki Permata?
Org Barat: Karena permata barang mahal, tidak setiap orang bisa membelinya dan akan beresiko untuk membawanya, kecuali yang menjual mengetahui kepada siapa dia harus menawarkannya.
Bhikkhu: Benar, demikian juga Sang Buddha, seumur hidup Dia tak pernah sekalipun datang secara pribadi mengajarkan Dhamma kepada orang-orang yang memiliki banyak debu dimatanya, yang ada hanyalah moral dan pengantar Dhamma jikalau dalam kerumunan terdapat orang-orang yang memiliki sedikit debu dimatanya, kecuali orang yang memiliki banyak debu tersebut meminta Sang Buddha menerangkannya.
Orang Barat: Tetapi Bhante, mengapa dalam hal ini Dhamma tidak diajarkan kepada orang-orang yang memiliki banyak debu dimatanya?
Bhikkhu: Oh pendatang yang baik, bagaikan orang Miskin yang diberi Permata, dia akan menjualnya untuk memenuhi kebutuhan hariannya. Andai dia menyimpannya, Permata itu menjadi tidak bermanfaat karena tidak dipakai. Andaikan Permata itu dipakainya maka dia hanya bisa memakainya bukan ditempat-tempat yang selayaknya, sehingga mengundang para penyamun untuk merampoknya. Demikian juga orang yang memiliki banyak debu dimatanya, jika dia diajarkan Dhamma, maka dia akan menggadaikannya/melepaskannya dan mencari sesuatu yang sesuai dengan keinginan duniawinya. Andai dia berlindung didalam Dhamma, menjadi tidak bermanfaat karena tidak dia terapkan didalam hidupnya. Andai dia menunjukkan keyakinan Dhamma-nya kepada orang-orang ditempat dimana banyak keyakinan, maka para fanatik akan datang dan mengatakan ajaran ini sesat, tidak bermanfaat, dan para fanatik itu akan berusaha membuat perdebatan agar orang ini melepaskan Dhamma. Dan karena orang ini tidak mengerti Dhamma, maka dia akan kalah dan melepaskan keyakinannya.
Demikian sebaliknya, bagaikan orang Kaya dia tidak akan menjual Permata yang dia miliki, karena Permata adalah perhiasan yang berharga, yang membawa dia kepada kebanggaan, kehormatan, kemuliaan, simbol kesuksesan, sehingga orang Kaya tidak akan pula hanya menyimpannya/menyembunyikannya karena orang Kaya akan memakainya ditempat-tempat yang selayaknya yang bisa dia kunjungi, dan ketika dia datang ketempat dimana para penyamun sering berkumpul, orang Kaya tidak memakainya, sehingga Permata tidak bisa dicuri darinya. Dan andai para penyamun ini mengetahuinya dan berusaha datang untuk mencurinya, maka mereka akan gagal mencurinya karena orang Kaya memiliki sistem keamanan yang tinggi.
Demikian orang yang memiliki sedikit debu dimatanya, Dhamma adalah kebahagiaan rohaninya, perhiasan jiwa yang berharga yang memberikan dia kebahagian karena hidup dalam pengertian yang benar, jauh dari ilusi dunia. Dia akan selalu menerapkan Dhamma didalam kehidupannya, karena membawa kebahagiaan, kehormatan, kemuliaan, dan selalu membahas Dhamma ditempat yang sesuai sehingga tidak mengundang para fanatik. Dan ketika dia berada diantara banyak keyakinan dia akan menyembunyikan keyakinannya terhadap Dhamma, agar para fanatik tidak membuat perdebatan dan berusaha agar dia melepaskan Dhamma. Dan andai para fanatik itu mengetahui keyakinannya dan mengundang perdebatan, dia akan dengan mudah mengalahkannya karena telah mengerti bagaimana Dhamma itu.
Oleh: Dhammaduta
Agustus 16, 2011 at 5:31 am
Buddha di dalam Sutra Saddharmapundarika menyatakan bahwa ia adalah Bapak bagi Semua Makhluk. Jadi personifikasi sifat-sifat Tuhan itu ada dalam diri Sang Buddha, karena Buddhisme mengajarkan untuk mewujudkan kualitas Tuhan dalam diri umat manusia.
Ada pencerahan?
gemanah kbr mas?
salam
November 6, 2011 at 3:56 pm
Bapak dalam hal ini bukan Pencipta loh, tapi sebagai pembimbing, seperti seorang ayah yang selalu memberikan nasehat pada anak2 nya, Jika Tuhan diartikan sebagai YANG MULIA, maka memang demikian
Agustus 17, 2011 at 5:44 pm
ups..sori nge-ganggu.
http://agama.forumakers.com/
saya maen ke sana,,tapi masihmembingunkan.
utk mempelajari budhism..hal pertama yang saya lakukan itu apa seh?
begitu banyak aliran.ehm,yang mendasar dulu ajah mhn inpo ke sayah.
salam
November 6, 2011 at 4:01 pm
Kalo mau belajar ajaran Buddha, anda bisa mulai dari aliran Theravada, baru ke Mahayana, dan kemudian baru Tantrayana. Kalo saya sejauh ini masih belajar Theravada, Mahayana sedikit soalnya terjemahan kitab Mahayana ke bahasa Indonesia jelek, tidak seperti Theravada yang penggunaan kalimat-kalimatnya ketat.